Drama Korea Doctor X: The Era of the White Mafia awalnya menarik perhatian lewat intrik rumah sakit, konflik kekuasaan, dan sosok dokter jenius yang tak gampang tunduk pada siapa pun. Namun, memasuki episode keenam, pembahasannya melebar ke luar ruang operasi. Kali ini, yang bikin penonton ramai berdebat adalah kisah tentang Gerakan Demokratisasi Gwangju pada 1980.
Alih-alih hanya menyajikan drama medis, serial yang dibintangi Kim Ji-won ini justru menyentuh salah satu babak paling sensitif dalam sejarah Korea Selatan. Keputusan tersebut memicu kritik dari sebagian penonton, bahkan muncul petisi yang meminta penayangan drama dihentikan.
Doctor X Episode 6 Bawa Luka Lama Gwangju ke Layar
Dalam episode yang tayang pada 24 Oktober 2026, penonton diperkenalkan pada Oh Sang Beom, karakter yang mengalami luka tembak di kepala saat tragedi Gwangju pada 18 Mei 1980. Ia harus menjalani hidup dengan pecahan peluru yang masih tertinggal di kepalanya, sementara kenangan pahit dari peristiwa tersebut terus membekas. Ia juga kehilangan kakaknya dalam tragedi itu.
Kisahnya kemudian bersinggungan dengan Gye Su Jeong, dokter bedah jenius yang diperankan Kim Ji-won. Penanganan medis terhadap Oh Sang Beom menjadi pintu masuk bagi serial ini untuk membicarakan trauma dan dampak panjang sebuah tragedi.
Secara konsep, cerita seperti ini sebenarnya punya ruang untuk menghadirkan sisi emosional yang lebih kuat. Masalahnya, sebagian penonton merasa perpindahan dari konflik rumah sakit ke sejarah Gwangju berlangsung terlalu mendadak.
Doctor X
Bukan Soal Sejarahnya, tetapi Cara Ceritanya Dibangun
Sejak awal, Doctor X dikenal lewat konflik dunia medis, persaingan kekuasaan, dan upaya Gye Su Jeong menghadapi praktik korupsi. Ketika tragedi sejarah tiba-tiba mengambil porsi penting, sebagian penonton mempertanyakan seberapa erat kaitannya dengan alur utama.
Kritik pun bermunculan. Ada yang merasa tema sebesar Gwangju seharusnya dibangun dengan lebih matang, bukan sekadar dimasukkan ke dalam cerita yang sebelumnya berfokus pada intrik rumah sakit.
Di sisi lain, mengangkat peristiwa bersejarah melalui drama fiksi bukanlah sesuatu yang otomatis keliru. Kisah semacam ini bisa membuat generasi muda lebih mengenal luka masa lalu Korea Selatan. Namun, eksekusinya tetap penting, terutama ketika menyangkut pengalaman korban dan peristiwa yang masih sensitif bagi masyarakat.
Petisi Penghentian Tayang Ikut Memanaskan Situasi
Kontroversi Doctor X: The Era of the White Mafia tak berhenti pada perdebatan soal naskah. Petisi yang meminta penayangan drama dihentikan juga menjadi sorotan. Meski begitu, munculnya tuntutan tersebut tidak berarti serial ini sudah resmi dibatalkan.
Perhatian publik turut tertuju pada unggahan poster drama oleh Lee Ok-gyu, produser utama dari Studio S, yang menampilkan tulisan “No Fear”. Unggahan itu memancing spekulasi, tetapi belum ada kepastian bahwa pesan tersebut merupakan tanggapan langsung terhadap kritik yang muncul.
Doctor X Masih Punya Pekerjaan Rumah
Kontroversi ini memperlihatkan betapa sulitnya meramu drama hiburan dengan sejarah yang sensitif. Ide ceritanya bisa menarik, tetapi penonton juga ingin melihat hubungan yang masuk akal antara tema besar tersebut dan perjalanan karakter.
Bagi Doctor X, tantangannya sekarang bukan sekadar meredam kritik. Serial ini perlu membuktikan bahwa kisah Gwangju memang punya tempat dalam narasi yang sedang dibangun, bukan hanya menjadi kejutan yang mengalihkan perhatian dari konflik utama.
Apakah keputusan ini akan membuat cerita Doctor X semakin berbobot atau justru mengganggu ritmenya? Jawabannya bergantung pada bagaimana episode berikutnya mengembangkan kisah tersebut.
